Siat Api
Pada saat hari raya Pengrupukan sehari sebelum Nyepi digelar tradisi perang api. Tradisi ini dilaksanakan di desa Nagi, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Perang api yang dilakukan menggunakan sarana api dalam wujud batok-batok kelapa dikumpulkan kemudian dibakar, pemuda desa mengelilingi api tersebut sambil menunggu perintah atau aba-aba dimualinya tradisi tersebut. Pemuda-pemuda desa yang terkumpul dalam Sekehe Teruna Teruni (STT) berkumpul di depan Bale Banjar desa Pakraman Nagi, memakai pakaian adat Bali madya tanpa baju, mereka mengenakan kamen (sarung), saput poleng (kota-kotak) dan udeng di kepala, mereka duduk melingkari batok kepala yang terbakar. Menunggu batok kelapa ini agar terbakar sempurna, mereka menyanyikan lagi tradisional yang dinamakan gegenjekan, diselingi tari-tarian diantara mereka, terlihat suka cita, kegembiraan dan semangat yang berkobar. Para penonton menunggu perang yang akan terjadi antara pemuda desa tersebut, mengingat api telah berkobar dan siap untuk digelar ritual perang api. Setelah aba-aba terdengar dari Jro Bendesa Pakraman desa Nagi, tanda tradisi perang api ini dimulai, para pemuda yang tadinya duduk mengelilingi batok kelapa yang sedang berkobar, serta merta bangun, ada yang meloncat ke tengah api, ada yang menendang api, mereka semua seolah tak mengenal kawan, semuannya musuh dan harus diserang, mereka melempar batok kelapa yang masih terbakar ke peserta disebelahnya, ada yang lawan tanding satu lawan satu, bahkan ada yang keroyokan, semua saling serang. Gambelan baleganjur bertempo kencang mengiringi ritual perang api ini, para peserta terlihat tambah semangat, walaupun sekujur tubuh mereka telah berwarna hitam karena terkena arang dan bahkan ada yang terbakar. Teriakan dan tantangan saling mereka lontarkan. Ritual ini memang termasuk tradisi adu nyali dan keberanian, mereka melakukan dengan sadar tanpa kesurupan atau trans, tidak dalam pengaruh alkohol dan tidak dalam keadaan bermusuhan ataupun dendam, semuanya akan damai lagi setelah titual usai. Tradisi perang api ini digelar bertujuan untuk melebur dan memusnahkan sifat-sifat bhuta kala yang ada pada diri manusia, api tersebut sebagai pemusnah dari sifat buruk seperti kemarahan, iri hati, dengki dan juga ketamakan manusia. Walaupun tidak suatu keharusan untuk menggelar ritual perang api ini dan tidak akan terjadi masalah apabila tidak dilaksanakan, namun ini adalah tradisi turun-temurun warisan leluhur yang mesti dijaga kelestariannya dan mereka merasa senang bisa melakukannya.