Ngerebeg
Tradisi Ngerebeg dari Desa Tegallalang adalah membersihkan pikiran dalam Bhuana Alit (tubuh manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta). Tradisi ini juga sebagai simbol menjaga keharmonisan makhluk Tuhan di dua dunia yang berbeda.
Masyarakat setempat meyakini tradisi ini sebagai upaya untuk menetralisir sifat-sifat negatif di dalam diri manusia, yang disebut dengan Sad Ripu. Hal ini nantinya akan menimbulkan keharmonisan alam dan masyarakat sehingga bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik
Kata Ngerebeg berasal dari Bahasa Kawi yang berarti mengusir atau menempatkan wong samar (makhluk halus). Para wong samar ini bukannya diusir, melainkan diberikan tempat berupa pelinggih.
Masyarakat setempat percaya, bahwa manifestasi Tuhan yang berada atau melinggih di Pura Duur Bingin memiliki pengiring berupa wong samar. Wong samar ini diyakini bermukim di hulu sungai sebelah barat pura. Dalam pelaksanaan piodalan di pura, para wong samar juga memiliki keinginan untuk ngayah atau membantu pelaksanaan prosesi piodalan.
Pelaksanaan Tradisi Ngerebeg diperkirakan telah ada sejak abad ke-13, ketika kedatangan Tjokorda Ketut Segara ke Desa Tegallalang. Tradisi ini hingga kini masih tetap dipertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat Desa Tegallalang.